Penyelundup Ayam dan Burung dengan Kapal Asal Thailand Ditangkap Tim Intelmar



Penyelundup Ayam dan Burung dengan Boat Asal Thailand Ditangkap Tim Intelmar

Belawan, Bantenlink.com — Penyelundupan hewan unggas jenis ayam adu diduga dari negara Thailand yang diangkut menggunakan boat GT 8 – GT 10 di perairan Aceh Tamiang. kembali digagalkan Tim Fleet One Quick Response (F1QR) Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) I Belawan, Minggu (04/08/2019).

“Penangkapan dilakukann F1QR setelah mendapatkan informasi tentang adanya aksi penyeludupan unggas jenis ayam adu dan burung yang diangkut menggunakan kapal motor dari Thailand. Usai mendapatkan informasi tersebut, Tim langsung melakukan koordinasi dengan Posal Pangkalan Susu dan KRI Siada-862 yang sedang melaksanakan Operasi di Perairan Aceh untuk melakukan penyekatan di perairan Selat Malaka,” papar Komandan Lantamal I Laksma TNI Abdul Rasyid K, S.E., M.M., pada konferensi pers di Markas Komando (Mako) Lantamal I Belawan, Rabu, 07/08/2019.

Ditambahkannya, selain meringkus 2 awak, FH dan AA, kapal boat nelayan diduga telah melakukan penjemputan di tengah laut atau langsir. Dari kapal boat tersebut petugas menyita barang bukti sekitar 76 Kotak yang berisi 88 ayam adu tanpa dokumen.

“Setelah melakukan penangkapan ABK, kapal boat dan barang bukti ayam adu ilegal ditarik ke Pos TNI Angkatan Laut Pangkalan Susu kemudian ke Mako Lantamal I Belawan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, dan BB dititipkan di Balai Besar Karantina Pertanian Belawan” jelas Danlantamal I Belawan.

Abdul Rasyid mengungkapkan, penyelundupan hewan unggas jenis ayam adu dari Thailand merupakan tranding baru bagi para penyelundup karena dianggap lebih menjanjikan daripada bawang. Seekor ayam adu yang berkualitas, sebutnya berharga kisaran Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per ekor.

“Maraknya bisnis ini karena bila ayam adu sudah jadi, harganya bisa melonjak hingga Rp. 150 juta per ekor. Modus yang dilakukan pemiliknya, jika sudah sampai di Gudang Seuruwey, dokumen atau surat-surat yang disiapkan penampung ayahm adu selundupan, seolah-olah sah dari karantina hewan,” beber Danlantamal I.

TNI AL khususnya Lantamal I yang berada di jajaran Koarmada I berkomitmen untuk memberantas tindak pidana di laut, salah satunya penyelundupan.
“Dengan melakukan patroli baik melalui operasi intelijen maupun operasi laut dengan menggunakan KRI ataupun kapal patroli, Lantamal I akan selalu melakukan pengawasan di wilayah Selat Malaka yang disinyalir sampai saat ini masih banyak digunakan untuk penyelundupan komoditi luar ke Indonesia melewati jalur perairan,”

“Daerah perbatasan negara sangat rawan dari berbagai macam penyelundupan, Keberhasilan F1QR Lantamal I dalam menggagalkan penyelundupan merupakan bentuk komitmen TNI AL dalam hal ini Koarmada I melalui Lantamal I dalam menegakkan hukum di laut,” pungkas Danlantamal I.

Atas perbuatan tersebut, tersangka melakukan pelanggaran sebagaimana diatur dalam pasal 5 Undang-undang No.16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan yaitu dengan ancaman Pidana penjara paling lama 3 (tiga) Tahun dan denda paling banyak Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).

Hms

Leave a Reply