Desa Ciangir Termasyhur Kemana-mana, Suherdi: Kadesnya Harus Orang Berkualitas



Desa Ciangir Termasyhur Kemana-mana, Suherdi: Kadesnya Harus Pemimpin Berkualitas

TANGERANG, Bantenlink.com — Pasca selama 12 tahun menjabat sebagai Kepala Desa (Kades) Ciangir, H Suherdi pada 23 Juli 2019 mendatang melepaskan jabatannya. Namun dirinya mrenyampaikan tidak akan mencalonkan diri kembali, tapi memberikan kesempatan pada warga yang lain yang berkualitas untuk mengisi jabatan Kades Ciangir. Alasannya, ketika dijabat orang lain bahkan mungkin mempunyai kemampuan yang lebih untuk memajukan desa yang berada di perbatasan Kabupaten Tangerang-Kabupaten Bogor itu.

Selama jabatannya sebagai Kades, Suherdi tercatat membuat desa tertinggal Ciangir menjadi daerah yang dikenal maju. Di masa kepemimpinannya pula, sejak 2007-2019 telah kedatangan investor.

“Sebenarnya saya sudah jenuh menjadi Kades selama 12 tahun, dan ingin memberikan kesempatan bagi warga lain untuk menjabat Kades yang bisa membuat Desa Ciangir menjadi lebih maju,” ujarnya saat bertemu dengan tokoh masyarakat di kantor desa Ciangir, Selasa (16/7/2019).

Dia mengungkapkan, saat ini Desa Ciangir sendiri sudah sangat dikenal hingga kemana-mana. Terlebih dengan selesai dibangunnya lembaga pemasyarakatan untuk para narapidana yang akan dilepas sehubungan akan habis masa tahanan.

“Tentunya akan berbeda jika dijadikan sebagai TPA (tempat pembuangan akhir) sampah DKI Jakarta. Dapat dibayangkan akan banyak lalat hijau beterbangan di permukiman warga. Saya pikir, jika desa Ciangir dijadikan TPA sampah, akan lebih mudharot-nya, walaupun disini dijanjikan akan didirikan Puskesmas,” tutur Suherdi.

Diceritakannya, dirinyalah yang berhasil menggagalkan proyeknya, berhasil meyakinkan penguasa bahwa membuat TPA justru lebih bamyak dampak buruknya. Adanya protes warga, sempat membuat konsultan proyek TPA menunggu selama setahun setelah sosialisasi. Kalau tidak ada gejolak masyarakat MoU akan dilaksanakan atau tidak bisa diganggu gugat.

“Selaku perwakilan atau tokoh masyarakat saya tidak mau tanah kelahiran saya dijadikan tempat sampah. Walaupun menurut konsultan sampah itu bisa diolah. Saya masih ingat ditawarkan uang Rp 1 milyar agar saya menyetujuinya. Namun lebih baik saya memikirkan kemaslahatan. Saya ada usaha, jadi kepala desa bagi saya bukan untuk mencari uang, tapi untuk memajukan desa,” tegasnya.

Terkait penolakan masyarakat untuk menjadikan TPA di desa Ciangir, didasarkan tidak logisnya alasan yang disampaikan konsultan. Tawaran solusi mengatasi sampah mulai dengan sistem pembakaran, namun itu cost-nya ternyata sangat mahal. Dengan rencana menggunakan mesin buatan Jerman pun begitu, ternyata juga berbiaya mahal. Akhirnya pilihan jatuh akan menggunakan buatan sendiri.

“Dengan alat mengatasi sampah buatan sendiri akan membuat sampah tetap menggunung. Memang ada cara lain dengan membuat galian untuk menimbun sampah dan memanfaatkan gasnya, tapi ini juga dikhawatirkan akan mencemari sumur warga, dan yang paling terkena dampaknya adalah kampung Nanggela,” kata Suherdi lagi.

Di penghujung pembicaraannya Suherdi mengungkapkan rencananya pada Agustus 2019 desa Ciangir akan dikunjungi Presiden Joko Widodo. Menurutnya, terkenalnya Desa Ciangir bukanlah baru sekarang. Konon, waktu dulu juga pernah dikunjungi Bung Karno. Oleh karena itu, karena Desa Ciangir dikenal perlu disiapkan pemimpin yang berkualitas.

EDY TANJUNG

Kades Suherdi bersama TP PKK Desa Ciangir

Leave a Reply