KH Hafis Gunawan SPd Kalungi Selempang 112 Alumni di Wisuda Miftahul Khaer



Prosesi wisuda santri Aliyah ponpes Miftahul Khaer, Curug, Kab Tangerang, Rabu (1/5/2019)

Wisuda santriawan dan santriawati ponpes Miftahul Khaer, Curug, Kabupaten Tangerang, Rabu (1/5/2019)

TANGERANG | BantenLink — KH Hafis Gunawan SPd memasangkan selempang kelulusan 112 santriawan-santriwati kelas 6 madrasah atau setara kelas 12 Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Khaer yang dilangsungkan di halaman mesjid Muawanah Kampung Babakan, Kelurahan Sukabakti, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Rabu (30/5/2019).

Hal tersebut sebagai bagian dari prosesi wisuda setelah pembacaan satu persatu nama-nama yang lulus sesuai keputusan yudisium dan penyerahan ijazah. Tak pelak peristiwa ini mengundang haru wali santri dan langsung memeluk anaknya setelah turun dari panggung setelah dikalungkan selempang wisuda.

Wisuda santri ponpes Miftahul Khaer sendiri dilaksanakan setelah belajar selama enam tahun mengikuti MTs dan 3 tahun menjalani pendidikan madrasah aliyah (MA) yang berada dibawah pimpinan Ketua Yayasan H Armat.

Kegiatan ditandai tausiah dari KH Ade Ilham dan pembacaan surat keputusan yudisium oleh M Hafifi SPd dan pengalungan selempang oleh pimpinan ponpes tersebut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Tangerang H Ahyani MM, Camat Curug Rahyuni dan tokoh masyarakat diantaranyan H Raya, H Sanen, H Uji.

Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Khaer, KH Hafis Gunawan mengatakan Ponpes Miftahul Khaer mengadakan pendidikan mulai tingkat TK, MI, MTs dan MA. Dirinya bersyukur bisa kumpul depan masjid Al Muawanah.

“Untuk lulus pondok harus menunggu selama 6 tahun, minimal 3 tahun. Dapat dibayangkan betapa capeknya di pesantren. Jangan dulu mendapatkan ilmunya, bisa betah di pondok saja sudah luar biasa,” katanya.

Hafis Gunawan anak di pesantren agar bisa menjadi anak yang saleh terkadang membuat khawatir orang tua. Tapi bersyukurlah kalau anak bisa mondok di pesantren. Disebutkannya, hal itu dapat dirasakannya karena anak ada pendidikan pesantren di Jombang.

“Bagaimana keluh-kesah anak di Pesantren dapat kita rasakan dan merasakan kerinduan menunggu pulang. Kalau kehilangan sandal itu biasa, tidak apa-apa ikhlaskan saja.

Apapun itu merupakan pengorbanan untuk menjadikan sebagai anak saleh. Keluhan apa yang dirasakan saya rasakan juga. Termasuk adanya konflik keluarga yang dirasakan santri,” beber Hafis Gunawan.

Lebih jauh disebutkannya, selepas menjadi santri yang lulus pondok pesantren bisa menjadi apa saja. Yang terpenting belajar jangan bosan untuk terus menuntut ilmu Dengan adanya 112 wisudawan-wisudawati yang saya lepas ini, berarti telah melewati masa pendidikan.

“Dulu kalau orangntua menyerahkan anaknya di pondok, berarti anak diikhlaskan untuk pangdidikan kiai, pangbimbingan kiai bahkan panggebukan kiai. Tapi selama menjadi kiai di pondok pesantren belum pernah saya memukul santri.

Dulu kalau murid dipukul guru atau kiai orang tuanya ikhlas. Tapi sekarang ngomong ikhlas dididik guru, kalau dipukul dilapor ke kepolisian,” ungkapnya.

Santriwan santriwati, katanya lagi, hanya untuk lulusan Aliyah dan SMK. Prinsip ponpes Miftahul Khaer sendiri mengembangkan kreativitas dan inovasi. Jika ada teori baru dan selama bermanfaat akan dipakai. Oleh karena itu diminta doa dan ikhlasnya.

“Saat ini santri dari dua ponpes Miftahul Khaer ada sebanyak 1200 orang. Saya berharap tahun 2020 akan ada lagi Miftahul Khaer 3, yang semua pembangunannya dari hasil amplop wali santri, dan tidak ada proposal ke pemerintah,” tandas Hafis Gunawan.

Sebelumnya Camat Curug Rahyuni mengucapkan selamat kepada para alumni yang telah menyelesaikan studinya di pondok pesantren Miftahul Khaer. Namun disebutkannya, selesai mondok bukan tujuan akhir, tapi awal hidup di masyarakat.

Sementara, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Ahyani, membenarkan apa yang disampaikan oleh Camat Curug. Bahkan menurutnya, sesungguhnya para alumnus akan berada di lautan dalam. Untuk itu dia berpesan agar alumni memperbaiki iman karena akan menghidupi zaman yang bagaikan lautan bentuknya.

“Kepada alumni dan alumna, pertama perbaikilah perahumu atau akidah dan imanmu, jika di pondok iman bisa kuat jaga saat di masyarakat. Misalnya, di masyarakat hoax ada dimana-mana sampai menutupi akal sehat, karenanya tetaplah jaga keimanan, karena alumni berada kehidupan. Lautnya luas, ombaknya dapat menggulung,” pesan Ahyani di awal kata sambutannya.

Kedua, lanjutnya lagi carilah bekal yang banyak. Pergunakan ambil ilmu, terutama bekal ridho dari orangtua dan ridho guru.

“Terkait jengkelnya pengasuh pesantren kalau guru diproses kalau memukul dizaman sekarang, , kalau dulu murid yang ngobrol saya malah tempeleng waktu mengajar. Kalau kita perlu ridho orang tua yang melahirkan dan mengawinkan dan bagi yang mendidik kalau tidak ada ridhonya kita tidak ada berkah. Jadi jangan marah dan melapor kalau ditempeleng guru karena merupakan berkah. Kalau guru yang memukul untuk mendidik dilaporkan ke kepolisian, percayalah yang dididik akan dicabut berkahnya,” papar Ahyani.

Senada, KH Ade Idham dalam tausiahnya mengajak agar alumni berperang dengan hawa nafsu. Setelah lulus akan menjadi makrifat, karena makrifat merupakan puncak dari ilmu. “Ilmu kanuragan atau ilmu sejati itu ialah makrifatullah,” katanya dalam penggalan tausiah yang diakhiri dengan pembacaan doa. Dalam tausiahnya sempat memberikan motivasi kepada para alumni yang menceritakan KH Hafis Gunawan pertama kalau merintis pondok pesantren pernah harus naik sepeda untuk meminjam uang. “Dan itulah proses berjuang,” ucap KH Ade Idham.

EDY TANJUNG

Ragam kegiatan wisuda santri ponoes Miftahul Khaer, Rabu (1/5/2019)

Leave a Reply