Penelitian Kosakata Kemendikbud, 200 dari 668 Bahasa Daerah Terdeteksi Punah



Penelitian Kosakata Kemendikbud, 200 dari 668 Bahasa Daerah Terdeteksi Punah

Tangsel | BantenLink — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Kantor Bahasa Banten (KBB) menyelenggarakan Seminar bertajuk “Diseminasi Hasil Penelitian dan Pengambilan Data Kosakata Tahun 2019″ dengan mengambil tempat di Aula Wisma Tamu Puspitek Serpong.

Kegiatan seminar itu dilaksanakan selama dua hari, sejak hari Kamis kemarin dan berakhir pada hari Jumat tanggal 11-12 April 2019. Dihadiri oleh para kalangan akademisi, guru, dosen, mahasiswa, pemuda, Komunitas Bahasa, Komunitas Masyarakat Betawi Ora dan Lembaga Benteng Kita. Menghadirkan beberapa narasumber cukup berkompeten, seperti Prof Dr Multamia RMT Lauder SS Mse DEA dari Universitas Indonesia, Dr Yeyen Martani MHum dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Oey Tjin Eng dari Komunitas Benteng Tangerang dan Artis/Komedian Sunarji (Narji).

KIRIMAN AGUS KURNIA*)

Seminar dipandu moderator Wuri dan Nur, pada hari pertama (Kamis, 11/4) tampil sebagai pembicara awal artis sekaligus komedian Narji yang sering mengangkat bahasa Betawi Melayu dalam lawakannya.

Diharapkan, perlunya kerjasama baru dalam memelihara dan melestarikan bahasa Betawi Melayu dan bahasa daerah yang ada di Kota Tangsel, melalui mekanisme kamus bahasa daerah khususnya bahasa Melayu Betawi dalam bentuk kamus darling (on-line). Hal ini agar masyarakat luas dapat menggunakannya apabila buku-buku kamus daerah sudah sulit ditemukan di toko buku dan tentunya memerlukan kerjasama pihak terkait.

Sementara itu, pembicara kedua Dr Yeyen Maryani MHum dalam disertasinya menyampaikan, bahwa 200 bahasa daerah telah punah dari 668 bahasa daerah yang sudah dideteksi di seluruh Indonesia, hal ini berdasarkan identifikasi dan pemetaan yang disebabkan beberapa faktor salah satunya adalah melalui migrasi penduduk dan faktor perkawinan silang”

“Pada tahun 2009 UNESCO merilis bahwa 2500 bahasa di dunia dan 100 bahasa daerah di Indonesia terancam punah, 200 telah punah dalam 30 tahun terakhir dan 607 terancam tidak aman. Hal ini menjadi penting disebabkan banyaknya bahasa daerah serta ragam budaya dan kearifan “penutur”, maka dari itu perlunya “pelindungan” bahasa dalam hal ini.”

Dr Yeyen Maryani MHum lebih lanjut memaparkan, berdasarkan penelitian lembaga bahasa dari luar negeri merilis saat ini ada sejumlah 724 bahasa daerah di Indonesia. Namun ketika dilakukan verifikasi oleh lembaga Badan Bahasa  Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, data yang mutakhir saat ini tersisa 668 bahasa daerah, dimana sebagian besar ada di wilayah timur Indonesia, yakni di sekitar Papua dan Maluku. Sementara di wilayah barat tak terlalu banyak, termasuk di Banten.

Komunitas Bahasa Merekomendasi Penggunaan Bahasa Indonesia dan Pelindungan Bahasa Daerah dari Kepunahan

Dari kantong-kantong daerah di beberapa wilayah Banten dimana masyarakat Mandarin/Kanton/Tiongkok (China), datang dari negerinya untuk pergi merantau dan ada sebagian yang menetap di wilayah Tangerang (Benteng). Salah satunya di wilayah Teluknaga pada abad ke-14.

Setelah 300 tahun kemudian, pada abad ke-17, disusul dengan kedatangan VOC, dimana pemerintahan Kolonial Belanda mendatangkan juga para pekerja dan petani dari China. Maka asimilasi penduduk asli dengan masyarakat China perantau melalui perkawinan campuran menghasilkan warga keturunan Tionghoa yang disebut dengan Ci-ben (Cina Benteng) atau Teng’lang. Sehingga dalam komunikasi atau percakapan sehari-hari juga bercampur antara kosakata bahasa Tiongkok dengan penduduk setempat.

Beberapa kosakata dalam dialektika ada dalam bahasa keseharian yang  umum dipakai dalam masyarakat. Sebanyak 1280 kosakata bersumber dari kosakata bahasa Tiongkok. Begitupun kosakata bahasa Indonesia, menyumbang 280 kosakata ke dalam kehidupan masyarakat Benteng Tangerang (Teng’lang).

Menurut engkong Oey Tjin Eng sebagai pembicara ke-3 dari Komunitas Benteng Tangerang, penggunaan bahasa daerah dapat juga melalui pendidikan dan perlu diangkat sebagai bahan ajar muatan lokal, dengan metode penelitian, pengembangan dan dokumentasi serta pembinaan buat ‘penutur’ melalui metode lisan. Dengan metode tradisi lisan ini kemudian dilanjutkan dengan publikasi kepada masyarakat setempat sehingga tidak mengalami kepunahan juga terjaga tradisi lisan ‘penutur’ bahasa daerah setempat.

Dr Yeyen Martani MHum lebih jauh memberikan penjelasan, veberapa manuskrip bahasa juga perlu dikonservasi dimana ada 110 manuskrip bahasa yang ditemukan di Banten dari total 82.158 manuskrip yang ada di seluruh daerah Indonesia.

Peraturan Undang-undang tentang Pelindungan Bahasa sebenarnya telah diatur dalam Undang-undang nomor.  24 tahun 2009 tentang lambang negara dan bahasa serta Peraturan Pemerintah nomor 57 tahun 2014 dimana para pengambil kebijakan khususnya pemerintah mempunyai tugas kewenangan baik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah akan Pelindungan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah.

“Ada suatu keprihatinan soal ancaman kepunahan dan  kelangsungan bahasa Indonesia umumnya ataupun bahasa daerah khususnya. Sebagai contoh adalah penggunaan tenaga kerja asing (TKA) hendaknya melibatkan kantor bahasa dalam pelaksanaannya sebagai sebuah rekomendasi terlebih media iklan (advertising) luar ruang (outdoor) atau brosur yang menggunakan kosakata asing dalam  mempromosikan sebuah iklan nama daerah perumahan (real estate) tersebut atau nama-nama makanan dan restoran cepat saji yang masih menggunakan bahasa asing guna menarik minat beli konsumen dan investasi. Paling tidak lembaga bahasa atau kantor bahasa dilibatkan dalam  kebijakan merekomendasikan penggunaan kosakata yang diatur dalam manajemen satu pintu sebelum iklan luar ruang (outdoor) terpasang.

“Sebagai tuan rumah di negeri sendiri bahasa Indonesia ataupun nama daerah sudah selayaknya mendapatkan tempat, dan wajib dilindungi untuk di gunakan sebagai bahasa Nasional dan bahasa resmi kenegaraan berdasarkan UU no 24 tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah nomor 57 tahun 2014. Berkenaan dengan penggunaan bahasa yang harus dikuasai oleh Tenaga Kerja Asing telah diatur dalam Undang-Undang nomor 13 tahun 2003 tentang penggunaan Tenaga Kerja Asing untuk Uji Kemahiran Bahasa Indonesia dan Peraturan Kemendagri nomor 40 tahun 2007 dimana pemerintah daerah melakukan pembinaan terhadap tenaga kerja asing serta  koordinasi antara pemerintah daerah dan lembaga kantor bahasa adanya persyaratan dalam kerjasama pembuatan periklanan sebelum di pasang ke publik. Hal ini untuk melindungi bahasa dan sastra Indonesia.” demikian penuturan Dr. Yeyen Martani, M. Hum.

Senada dengan Dr. Yeyen Martani, M. Hum. Nara Sumber pada hari ke-2 Prof. Dr. Multamia RMT Lauder, SS., Mse., DEA. dari Universitas Indonesia mendukung langkah-langkah penggunaan, pelindungan bahasa dan sastra Indonesia serta nama-nama daerah. “Jika sudah terlanjur terpasang dalam ruang publik atau alasan sudah tercetak brosur, maka beri batas waktu selama 5 tahun. Selanjutnya diganti dengan mempergunakan nama Indonesia dan dikembalikan dengan nama daerah setempat,”

Berdasarkan pengalaman Prof. Dr. Multamia RMT Lauder, SS., Mse., DEA. lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan dari Indonesia dikarenakan tidak adanya akurasi data mengenai luas daerah, bahasa daerah setempat, aktivitas sehari-hari penduduknya ketika di tanyakan dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York dibandingkan negara Malaysia.

“Pemetaan bahasa dengan menggunakan titik pengamatan daerah serta penggunakan metode fonetik, usia informan, pekerjaan informan yang tidak memiliki mobilitas yang tinggi, dialektika masyarakat desa/daerah setempat sebaiknya langsung dicatat dan di entry dalam komputer. Dimana daerah yang menjadi titik pengamatan akan menjaga validitas dan akurasi pemetaan data bahasa.” Demikian metodelogi yang dipakai oleh Prof. Dr. Multamia RMT Lauder, SS., Mse.

Dalam disertasinya “Pemetaan dan Distribusi Bahasa di Tangerang”, lebih lanjut Prof. Dr. Multamia RMT Lauder, SS., Mse., menjelaskan:
“Berdasarkan pengamatan dan hasil risetnya menghasilkan 672 peta Bahasa telah di proses. Untuk wilayah Tangerang dengan  menggunakan teori Isoglos dan Dialektometri maka dihasilkan 3 daerah bahasa pakai yaitu daerah pakai berbahasa Sunda, Jawa dan Melayu atau Betawi ‘Ora.”

Acara yang ditutup oleh Muhammad Luthfi Baihaqi, M. A.  pada hari Jumat siang jam 11.20 WIB sarat dengan pertanyaan-pertanyaan serta diskusi dari para panelis seminar.

Agus Kurnia
*) Tulisan mungkin dimuat di media lain dan kami lakukan pengeditan seperlunya.

Leave a Reply