Sempat Tak Pasang Plang dan Sebar Banyak Batu, Betonisasi di Binong Disikapi LSM



Pembangunan betonisasi jalan di RW 13 Binong, Curug, Tangerang, yang semula paving blok, sebelumnya disirami batu split yang banyak, tapi akhirnya diangkat kembali setelah mendapat kontrol aktivis LSM Rumah Mutiara

CURUG, TANGERANG | BantenLink — Peran LSM sangat berguna dan efektif dalam mengontrol proyek APBD. Seperti pembangunan peningkatan jalan lanjutan lingkungan di RW 13, Kelurahan Binong, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang hasil Musrenbang yang diburu-buru pengerjaannya dan dikebut penyelesaiannya dari Kamis (14/2/2019) hingga Jumat dinihari.

Betonisasi jalan beton tersebut yang diborong Johannes itu terbilang cepat dikerjakan dan penyelesaiannya. Diduga untuk menghindari pengawasan internal pemerintah maupun pengontrolan eksternal dari LSM.

Pelaksanaan betonisasi jalan bernilai Rp 100 juta tersebut, sempat menimbulkan keheranan warga karena dilakukan penebaran batu split banyak sekali, meskipun tidak memerlukan perkerasan lagi karena dasarnya merupakan jalan paving block. Diduga sebelumnya dimaksudkan untuk mengurangi volume pengecoran setebal 20 sentimeter. Bahkan beberapa bagian bagesting sebelumnya sempat ditanam. Terlebih lagi, awalnya sempat tidak dipasang papan proyek di awal pekerjaan.

Barulah setelah Edy selaku aktivis LSM Rumah Mutiara mempersoalkan hal itu kepada pengawas Seksi Pembangunan Kecamatan Curug bernama Deni, staf di kecamatan itu pun menegur pekerja. Sehingga atas teguran tersebut, hamparan batu split ditipiskan dan dipakai seperlunya dengan membuang batu yang berlebih ke samping atau bahu jalan.

Adapun alasan penipisan batu split, karena alas pengecoran sudah keras dan di bawahnya merupakan hamparan paving blok dan hanya sebagian kecil yang perlu diurug karena berlubang yang tidak dalam.

Meski begitu, tak urung karena kontrol sosial yang dilakukan aktivis LSM, membuat pelaksana Johannes dengan arogan marah mendorong tubuh Edy sambil membentak mengapa mengadu kepada dewan bernama Rispanel Arya.

Edy menyebutkan, selaku kontrol sosial dirinya membuat pengaduan lisan kepada Ris maupun Den karena sesuai tupoksinya agar pelaksanaan realisasi pembangunan infrastruktur tidak terabaikan kualitasnya.

Dan setelah diingatkan tentang keharusan pemasangan papan proyek, kepada perwakilan pemborong dan staf kecamatan bernama Deni, barulah pelaksana memasang papan proyek dengan buru-buru mengerjakannya.

Semoga kejadian ini tidak terjadi pada proyek-proyek APBD selanjutnya dengan memakai pelaksana proyek yang berpotensi merugikan keuangan pemerintah daerah, jika tidak diawasi.

EDY TANJUNG

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply