Pembuang dan Pembakar Limbah Berbahaya di Gandasari Mengaku Diupahi Rp 70 Ribu



Semprot tembok sebagai protes kepada pembuang dan pembakar limbah pabrik di Gandasari yang mengaku diupah H Asli sebesar Rp 70 ribu, Senin (5/2/2019)

TANGERANG | BantenLink —
Pembuang dan pembakar limbah pabrik di Gandasari, Jatiuwung, Kota Tangerang mengaku diupah seorang bernama H Asli senilai Rp 70 ribu.

Hal itu terungkap saat sejumlah warga RT 01 RW 05 memerotes atas adanya pembakaran berbagai limbah industri berbahaya secara berkelanjutan.

Salah seorang warga menuturkan, yang dibakar diantaranya limbah kayu, plastik dan busa tak terpakai berbahaya. Hal itu sudah berlangsung lama. Dan warga setempat mengaku merasakan sesak nafas akibat akibat adanya asap dan bau bersumber pembakaran limbah tersebut.

“Asapnya bikin mata perih dan membuat nafas sesak. Tapi, gimana lagi, kami gak tau harus ngadu ke siapa,” keluh Ai Ratna pada wartawan, Senin, (4/2/2019).

Dia mengakui, warga juga jadi malas menegur si pembakar limbah itu, karena selalu menyebutkan cuma disuruh seseorang. Karena tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya warga hanya dapat pasrah dengan adanya pembakaran limbah berbahaya tersebut.

“Percuma juga negur kepada pembakarnya karena merasa ada yang melindunginya.
Besok-besok kembali lagi membakar limbahnya,” tambah Ai.

Hal yang sama dikatakan Machfud. Dirinya merasa kesal dengan aksi bakar sampah yang membuat polusi asap dan bau. Selain menimbulkan batuk, juga membuat perih pada mata warga

“Ini mah terlalu. Masa seenaknya saja buang dan bakar sampah. Kita  udah larang sama RT, dan membuang sampah ke tempat pembuangan sampah yang ada. ini malah buang dan bakar sampah semaunya,” terang Machfud.

Sementara itu Engkus petugas kebersihan setempat mengaku, dirinya hanya di suruh oleh pengusaha yang bernama H Asli. Ia mengaku diberikan upah Rp 70 ribu setiap mengangkat dan membakar sampah di lapangan.

“Saya cuma disuruh, dan kasih upah, cuma bisa menjalankan perintah, jadi kalau mau ngadu langsung ke pak haji Asli aja,” ungkapnya.

Sementara itu, Aris ketua RT setempat mengaku telah melarang pembakaran dan pembuangan sampah di lapangan tersebut. Namun, aksi bakar limbah ini kadang dilakukan dengan cara diam-diam.

“Sudah saya larang itu. Kita juga larang seluruh warga buang sampah dekat permukiman. Kan sudah ada tempat pembuangan sampah yang disediakan pemerintah,” ujarnya.

Pantauan di lokasi, Ketua RT dan warga bergotong-royong memadamkan api dengan menggunakan peralatan seadanya. Selain memadamkan api, juga melakukan pentupan gerbang menuju lapangan yang menjadi tempat pembuangan sampah liar.

Kiriman: Mad Sutisna

Leave a Reply