Saleh Asnawi | Resolusi Tangsel Tahun 2021: Tantangan dan Peluang



Drs H Moh Saleh Asnawi MA MH

DI ERA modern dan serba digital ini telah merubah cara manusia menjalankan gaya dan pola kehidupan. Masyarakat digital cenderung menginginkan segala sesuatu yang simple, cepat dan tepat guna. Saya rasa hal ini juga yang harus diadaptasi oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) sebagai salah satu Kota Cerdas terbaik di Indonesia dalam menerapkan kebijakan dan program kerjanya.

OLEH DRS H MOH SALEH ASNAWI MA MH

Cita-cita Kota Tangsel di tahun 2021 untuk memiliki fondasi yang kuat sebagai kota yang:

1) layak huni;
2) layak investasi;
3) ramah wisata; dan
4) menjadi kota digital.

Kenapa saya sebut fondasi kuat diperlukan, karena kami di Tangsel sudah memiliki track-record sebagai dasar dari cita-cita tersebut, salah satunya adalah hasil survei dari Ikatan Perencanaan Indonesia (IPA) yang menempatkan Tangsel sebagai kota paling layak huni di Indonesia pada tahun 2018. Akan tetapi, untuk mencapai cita-cita tersebut tentunya akan banyak tantangan dan peluang yang akan dihadapi.

Tantangannya adalah sebagai berikut:
1. Invasi tata guna lahan karena meledaknya penduduk Jakarta yang migrasi ke kota Tangerang, ditambah dengan laju pertumbuhan penduduk Tangsel yang diprediksi mencapai 2 juta pada tahun 2021.

2. Potensi ketimpangan Provinsi Banten yang semakin meningkat sehingga menjadikan Kota Tangsel sebagai tempat migrasi penduduk kota lain untuk mencari pekerjaan yang berakibat naiknya kebutuhan lahan permukiman sarana dan prasarana, serta fasilitas perkotaan Kota Tangsel.

3. Juga potensi banjir yang diakibatkan oleh Kali Cisadane terutama jika terjadi  curah hujan yang tinggi di kota Bogor dan Jakarta. Selain itu masalah manajemen sampah juga masih mengancam kota Tangsel.

Sedangkan peluang pengembangan Kota Tangsel adalah sebagai berikut:

1. Kota Tangsel memiliki letak dan kondisi geografis yang strategis yaitu berdekatan dengan Kota Jakarta sebagai ibu kota negara. Tersedianya sistem jaringan transportasi terpadu dengan kawasan Jabodetabek, seperti KRL dan
jalan Tol JOR.

2. Kota Tangsel sebagai rumah bagi inovasi teknologi dan pengembangan industri, dimana banyak sekali perusahaan berkelas internasional seperti Unilever, Sinarmas, Hongkong Land, Halliburton, Kompas Gramedia, dll yang memiliki kantor utama di Tangsel. Bahkan dalam beberapa tahun kedepan, kami mendapat informasi bahwa perusahaan raksasa teknologi Apple akan mendirikan kantor resmi Indonesia di Tangsel.

3. Kota Tangsel sebagai pusat pendidikan Banten, dimana para pengembang telah dengan serius menciptakan daerah pusat pendidikan yang saat ini telah diisi oleh beberapa kampus ternama nasional dan kampus internasional, seperti Universitas Atma Jaya, Prasetya Mulya, IULI, Binus, UnPam, UMJ, dsb. Banyaknya jumlah universitas di Tangsel ini menandakan potensi yang luar biasa bukan hanya fungsi universitas dalam menciptakan manusia berpendidikan akan tetapi fungsi sebagai pusat inovasi dan penelitian dan pengabdian masyarakat yang tentunya akan memberikan dampak positif bagi Tangsel sebagai “kota cerdas.”

4. Peluang berusaha juga begitu nampak jelas pada bidang perindustrian, potensi di bidang pariwisata, bidang pemukiman, bidang perdagangan dan jasa serta potensi dibidang lainnya seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi dan letak geografis Tangsel yang mendukung.

Cerdas Memilih

Politik hari ini menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah proses menuju Pemilu 2019, April mendatang. Semua lapisan masyarakat membicarakan politik, mulai dari akademisi hingga masyarakat biasa. Tentu ini merupakan hal menarik untuk dipahami dan diikuti perkembangannya.

Menuju Pemilu 2019 menjadi catatan bagi negeri demokrasi, saat-saat memanasnya dinamika politik dalam melahirkan pemimpin terbaik.

Permasalahan yang kerap kali terjadi dalam Pemilu, yakni sebagaian masyarakat dalam memilih pemimpin lebih mengutamakan pragmatisme dan mengabaikan
rasionalitas. Tidak semua pemilih datang ke TPS atas idealisme tertentu, tetapi ada yang didasari pada kalkulasi untung rugi yang sifatnya material, seperti mendapatkan uang dan barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari. Pragmatisme pemilih ini sebagian disumbangkan oleh tingkat literasi politik yang rendah, serta masifnya politik tuna ide dari kontestan pemilu.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang peserta Pemilu atau para Timses melakukan kecurangan untuk menang. Bahkan menghalalkan segala cara, mulai dari manipulasi suara hingga kentalnya politik transaksional.

Perkembangan media juga mempengaruhi masyarakat sebagai pemilih dalam menerima informasi, khususnya isu politik. Masyarakat sebagai pengguna media seharusnya cerdas dalam menyerap dan menyebar informasi. Melakukan penyaringan sebelum membagikan informasi. Namun sayangnya yang seringkali kita temui adalah kasus-kasus penyebaran berita hoax atau ujaran kebencian untuk menjatuhkan salah satu calon pemimpin, melakukan propaganda untuk kepentingan pihak tertentu.

Menyikapi permasalahan tersebut, masyarakat sebagai pemilih wajib diberikan pendidikan politik secara berkelanjutan, khususnya generasi muda. Pendidikan politik merupakan suatu pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan rakyat agar mereka dapat berpartisipasi secara maksimal dalam sistem politik, sesuai paham kedaulatan rakyat yang harus mampu menjalankan tugas memilih pemimpin.

Terdapat tiga hal yang bisa dilakukan pemilih sebelum Pemilu 2019, yaitu:

1. Pahami bahwa Pemilu 2019 adalah pemilu serentak, artinya, di Pemilu ini, pemilihan presiden dan wakil presiden bersamaan dengan pemilihan anggota legislatif baik DPR, DPD, maupun DPRD provinsi dan kabupaten/kota. Pemilih harus memberikan perhatian yang sama untuk kedua pemilihan ini, tidak hanya fokus pada pemilu presiden.

Presiden yang baik memang sangat diperlukan. Akan tetapi, parlemen yang baik juga penting untuk menopang kerja presiden. Jadi, jangan salah memilih wakil rakyat, karena parlemen-lah nanti yang akan membuat berbagai legislasi, melakukan penyusunan anggaran, dan menyelenggaran kerja-kerja pengawasan atas pelaksanaan pembangunan.

2. Pastikan Anda sudah terdaftar sebagai pemilih di Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019. Hal ini juga berkaitan dengan jumlah surat suara yang disediakan oleh KPU dalam Pemilu 2019.

Meskipun Anda tetap bisa menggunakan hak pilihnya, walaupun tidak terdaftar, sepanjang memiliki KTP elektronik, tetapi Anda tetap harus memastikan bahwa Anda terdaftar di DPT. Ini untuk menjamin bahwa ada ketersediaan surat suara yang cukup untuk digunakan pada hari pemungutan suara. Untuk memastikan sudah terdaftar, pemilih bisa mendatangi kantor desa/kelurahan setempat.

3. Pelajari calon pemimpin dengan mengetahui program, gagasan, dan visi misi peserta pemilu, baik pemilu legislatif maupun presiden. Agar Anda tidak menjadi objek yang diperdaya oleh para peserta pemilu dalam masa kampanye. Apalagi, selama masa kampanye, peserta pemilu cenderung akan berbicara soal hal-hal yang baik dengan berbagai janji.

Sebagai pemilih cerdas, harus dipastikan apa yang disampaikan oleh peserta pemilu tidak hanya janji manis, melainkan bisa direalisasikan. Untuk mengukur kemampuan kandidat dalam merealisasikan janjinya, pemilih harus cermat dalam melihat rekam jejak peserta pemilu.

Pemilih harus menempatkan diri sebagai subjek atau sebagai orang yang punya posisi tawar. Untuk membangun posisi tawar itu, pemilih harus memahami apa
yang menjadi kebutuhannya dalam kehidupan bernegara, serta mengetahui visi, misi dan program yang dibawa para peserta pemilu.

Dengan demikian, cerdas memilih pemimpin menuju pemilu 2019 merupakan aspek penting yang harus dimiliki oleh setiap warga negara. Sebagai warga negara yang
melek politik, mampu menggunakan hak politik dalam Pemilu secara cerdas.

Menyadari kewajiban bahwa satu suara untuk memilih pemimpin menuntukan nasib Indonesia ke depan. Sehingga pemilih cerdas melahirkan pemimpin terbaik yang dapat menyelesaikan berbagai masalah-masalah.

Di samping itu, masyarakat sebagai pelopor demokrasi diharapkan mampu mendorong tumbuhnya kesadaran tinggi dalam menggunakan haknya. Kualitas pemilihan dapat lebih baik dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya, serta dapat melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas untuk Indonesia.

Waspada Kampanye Hitam

Jelang pesta demokrasi 2019, masyarakat diminta mewaspadai upaya propaganda politik maupun kampanye hitam. Memang ada berbagai tantangan yang harus dihadapi dalam berdemokrasi, baik melalui politik identitas, ujaran kebencian hingga kampanye hitam. Propaganda politik dan kampanye hitam rawan digunakan sebagai alat meraih kekuasaan.

Pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) akan dilaksanakan serentak di 2019. Momen itu merupakan kali pertama sepanjang sejarah
pelaksanaan pemilu di Indonesia, yang juga menjadi tantangan tersendiri.

Terkait hal ini, propaganda politik dan kampanye hitam rawan akan digunakan sebagai alat meraih
kekuasaan. Bagi sebagian kelompok, ini rawan sebagai lahan untuk meraup keuntungan.

Kondisi itu tentu bisa saja membuat suhu politik semakin memanas. Atas kondisi itu, pemerintah daerah dinilai wajib memberikan bantuan dan fasilitas untuk kelancaran
penyelenggaraan pemilu sesuai pasal 343 Undang-Undang No 7/2017 tentang Pemilu. Diperlukan juga persamaan dan pemahaman persepsi di antara pemangku kepentingan
pemilu dalam upaya pencapaian tujuan pemilu yang lebih berkualitas dan demokratis.

Untuk mewujudkan Pemilu Serentak 2019 agar berjalan aman dan lancar, maka sosialisasi harus gencar dilakukan kepada seluruh masyarakat, bahkan hingga ke tingkat RT/RW di seluruh wilayah Indonesia.

Pemilu merupakan salah satu pilar demokrasi yang membutuhkan pengawalan khusus dari semua pihak, untuk
mewujudkan pemilu yang berkualitas. Upaya memperbaiki kualitas pelaksanaan pemilu merupakan bagian dari proses penguatan kehidupan demokrasi. Sesuai Undang-Undang No. 07/2017 tentang Pemilu, memang harus dilaksanakan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia jujur dan adil.

 

| Drs H Moh Saleh Asnawi MA MH
Ketua MPC PBB Kota Tangerang Selatan

Leave a Reply