MUTHIA GADIS MALANG: KORBAN ORANGTUA DAN KETIDAPEDULIAN MASYARAKAT SERTA PEMERINTAH



Muthia, seorang gadis yang malang berusia 11 tahun tampil di salah satu tv nasional menceritakan duka nestapanya sebagai anak jalanan. Akibat kabur dari petugas keamanan dan ketertiban yang mengejarnya, dia terluka parah di kaki sebelah kanannya. Karena tidak ada yang peduli dan tidak memiliki uang untuk berobat maka lukanya dari hari kehari semakin parah. Dalam kondisi kaki luka berdarah dan bernanah serta berbau busuk Muthia terus mengamen dari satu jalan ke jalan lain di Jakarta dalam keadaan kelaparan untuk mendapatkan uang guna menyambung kehidupannya.

Beruntung perempuan kecil ini bertemu dengan penggiat social anak jalanan di terminal bus, Andi Malewa. “Saat kami memberikan makan rutin kepada anak jalanan, terlihat ada seorang gadis yang baru saya lihat juga ingin mendapatkan jatah makan”, katanya. Setelah diberikan makan, maka Andi menanyakan  nama dan dari mana asalnya. Muthia kemudian menjelaskan bahwa ia berasal dari Dayeuhkolot Bandung, kabur dari rumah karena korban kekerasan dalam keluarga.

Andi kemudian membawa Muthia ke dokter untuk berobat, namun karena kondisinya sudah parah dokter melihat kemungkinan penyembuhannya hanya bisa diamputasi alias dipotong bagian kakinya yang telah membusuk tersebut. Dalam ketidakpastian penanganan penyakit dan kepulangannya, Muthia berkata lirih,”saya mau pulang ke rumah, kangen dengan adik saya bernama Santi”.

Hari ini kita lihat di berbagai jalan-jalan kota besar di Indonesia terdapat ribuan Muthia-Muthia lain yang mengalami keadaan yang sama. Mereka anak-anak kecil yang seharusnya mendapatkan pendidikan dan perlindungan di keluarganya justru terlantar dijalanan dalam keadaan lapar dan terpaksa ngamen untuk kelangsungan kehidupannya.  Pemerintah, masyarakat dan keluarga seyogyanya bisa berperan dengan baik mengatasi problem anak terlantar yang dari hari ke hari terus meningkat.

Hendri Gunawan

Author: 

hanya sekedar hobi menulis

Comments are closed.