Polresta Tangerang Ungkap Ragam Kasus dan Pencapaian Kinerja Selama 2018



Kapolresta Tangerang Kombes HM Sabilul Alif didampingi Ketua MUI Tangerang dan pihak TNI saat press release akhir tahun 2018, Senin (31/12)

TIGARAKSA | BantenLink –Kapolresta Tangerang, Kombes HM Sabilul Alif, Senin (31/12/2018), menggelar press release ungkap kasus dan pencapaian kinerja Polresta Tangerang selama 2018.

Dalam kegiatan sekaligus silaturahmi itu dilakukan pemaparan diantaranya meliputi kasus-kasus pidana narkoba, curas, curanmor, pelanggaran lalu lintas, uang palsu, perempuan dan anak.

Sedangkan untuk pencapaian kinerja lainnya, menyangkut keamanan dan ketertiban, sosialisasi antisipasi hoax, kebhinnekaan dan agenda kepolisian lainnya.

Disampaikannya, selama tahun 2018 berhasil diungkap kasus sebanyak 15 ribu botol minuman keras, 3 kilogram sabu dan kejahatan lainnya.

Menurut dia dalam tindak pidana yang terpenting dapat diungkap dan dicegah kasusnya. Permasalahannya, kejahatan berbanding lurus dengan jumlah penduduk, sebagai dinamika masyarakat yang menimbulkan kerawanan sosial.

Kabupaten Tangerang sebagai kota yang tingkat kejahatannya meningkat. Peningkatan penjualan sepeda motor berpengaruh pada pencurian sepeda motor, yang tanpa kunci ganda, di taruh di depan rumah, di depan minimarket yang kuncinya ditinggal. Selama ada asuransi, maka modus seperti ini akan berlangsung terus.

Kejahatan lainnya masalah minuman keras dan narkoba. kasus narkoba meningkat terus, namun bukan berarti polisi tidur. Pada 2018 berhasil uanhkap kasus sebanyak 3 kilogram sabu yang satu gramnya dapat digunakan untuk 10 orang, dengan harga per gramnya Rp 2 juta.

Narkoba dapat membuat bodoh dan membuat tidak produktif penggunanya, sehingga siapapun bisa terpengaruh, bahkan polisi dan tentara sekalipun bisa terpengaruh. Selain sabu ada Gozilla yang merupakan ganja sintestis.

Sayangnya, banyaknya pengungkapan kasus tidak didukung anggaran yang memadai. Lebih dari separuh anggaran di Polresta Tangerang merupakan anggaran untuk gaji pegawai. Anggaran juga dibagikan untuk pospam, buka bersama dan poshikmat. Namun pengungkapan kasus agar masyarakat mengetahui konsentrasi pihak kepolisian.

Pada 2018 ada sebanyak 281 kasus narkoba yang terungkap, yang berarti dalam.sebulan terjadi 25 kasus dan perhari kerja ada satu kasus yang diungkap. Peredaran narkoba sangat intenaif. Oleh karena ituperanan masyarakat, keluarga dan lingkungan, tokoh pemuda, RT, RW sangat diperlukan dalam pencegahan narkoba. Jika lingkungan sudah tercemar warga dapat melaporkan.

Untuk pelanggaran lalu lintas yang harus ditekan, selama tahun 2018 terjadi peristiwa lalu lintas sebanyak 141 kasus.

Sabilul Alif meminta Ketua MUI memberikan tausiah dan mendoakan bandar kasus 2,5 kilogram sabu agar mereka yang merupakan bagian masyarakat berubah sadar dan setelah kembali ke masyarakat bisa menyampaikan tentang narkoba yang dilarang.

Untuk perampokan atau pencurian dengan kekerasan, selama 2018 terjadi perampokan supir takai online pada 5 November 2018. Namun dalam seminggu kasusnya terungkap.

Begitu juga dengan polisi gadungan, korbannya adalah para wanita. Ada pula perampokan toko mas sebanyak 2,5 kilogram. Pembunuhan janda dengan motif satu duda dua janda. Namun akhirnya pembunuh janda tersebut berhasil ditangkap.

Uang palsu senilai Rp 9 juta juga menjadi motif kejahatan yang diungkap Polresta Tangerang.

Terjadi juga kasus Pedofilia dengan korban sebanyak 41 orang di desa Sukamanah kecamatan Rajeg yang dilakukan guru mengaji.

Pembobolan ATM lintas wilayah Jawa Tengah, Serang, Banten, Sumatera, bernilai total Rp 1,2 miliar dengan modus membawa alat las.

Untuk kegiatan lainnya adalah program Tangerang Jawara dalam dalam rangka mengoptimalkan, keamanan dan ketertiban, politik dan sosial budaya sehongga tercipta rasa aman dan nyaman.
Pos Benteng merupakan program antihoax. Secara kontiniu membentengi Indonesia dari hoax.

Polresta Tangerang telah pula menerbitkan bulletin kebhinnekaan yang menggantikan bulletin Kaffah yang diterbitkan HTI. Kaffah sendiri tidak cocok untuk diaplikasikan, karena di Indonesia bahwa perbedaan itu sebuah keniscayaan. Kapokres Sabilul Alif sendiri telah memerintahkan mencari orang yang meletakkan bulletin tersebut, namun tidak dapat menangkap pelakunya.

Perempuan dan anak-anak menjadi objek kejahatan dengan adanya persetubuhan di bawah umur berdalil pernikahan. Sempat pelakunya yang merupakan ustadz meminta penangguhan penahan berdalil tidak ada yang melaporkan dan orang tua korban setuju. Namun karena adanya UU Pelindungan Perempuan dan Anak akhirnya orang tua korban melaporkan.

EDY TANJUNG

Leave a Reply