Tsunami di Selat Sunda, Alfakir Albantani: Ruwat Laut Perlu Dilakukan



Alfakir Endang Haryana Albantani


JAMBE, TANGERANG | BantenLink — Pimpinan Majlis Dzikir Al Ikhlas (YMDAI), menilai peristiwa tsunami akibat aktifnya anak Gunung Krakatau yang menelan korban di selat Sunda tidak begitu saja terjadi, tapi terkait dengan hal-hal berbau mistis. Untuk itu perlu dilakukan “ruwat laut”.

Pengasuh Ponpes Qadriyah wa Naqsabandiyah yang berada di Jambe Kabupaten Tangerang itu, menyebutkan selaku cicit Demang Usman sesepuh kampung Carita Banten, dirinya menilai musibah yang terjadi bisa dikaitkan karena makin sedikit ulama berzikir, apalagi tempat tersebut bukan lagi hanya merupakan wilayah santri, tapi juga telah berubah menjadi tempat wisata.

“Ada cerita-cerita masyarakat Carita dan sekitarnya, yang tahu kalau menjelang maghrib atau tengah malam kadang-kadang melihat penampakan sesosok bayangan hitam besar di tengah laut. Kemudian ada yang terlihat seperti orang yang berjalan di pinggir pantai. Namun tiba-tiba bayangan tersebut tiba-tiba akan menghilang,” kata Alfakir Albantani membuka cerita pada bantenlink. com, Kamis (27/12/2018).

Ditambahkannya, penampakan sesosok bayangan tersebut dipercaya masyarakat sebagai sebuah pertanda akan datangnya kebaikan atau rezeki berlimpah. Tapi bisa juga sebagai musibah. Maka perlu melakukan “ruwat laut” dengan cara turun ke laut untuk melarung kepala kerbau beserta bunga mawar, melati, kenanga dan kemenyan putih yang dibawa dengan daun waru yang ditekuk sebagai wadahnya.

“Sudah menjadi kebiasaan nelayan Carita kalau bertemu dengan tanda-tanda seperti itu, maka harus dilakukan ritual berzikir dan mengaji untuk menangkal bencana. Caranya dengan melarung kepala kerbau, bunga, kemenyan yang dijadikan misik, wewangian sebagai simbol alam yang untuk yang menyukai wewangian, terangnya.

Alfakir Endang Haryana Albantani menceritakan, suatu ketika seorang guru di hadapan murid-muridnya menancapkan tongkat di pasir pantai. Keesokan harinya, para murid disuruh kembali melihat tongkat yang ditancapkan sudah menjadi pohon waru.

“Kalau pohon waru tersebut mati, maka tunggu saja aktivitas gunung anak Krakatau. Sati-satunya jalan dalam mencegahnya, adalah dengan melakukan ritual ruwat laut,” tandasnya.

EDY

Leave a Reply