Kampanye ODHA Nol Stigma/Diskriminasi, JIP Tangsel Workshop Pegiat HIV – Wartawan



Foto bersama seusai workshop kampanye aids tanpa stigma dan diskriminasi yang digelar JIP Kota Tangsel

CIPUTAT, TANGERANG | BantenLink –Jaringan Indonesia Positif (JIP) merupakan jaringan penggiat orang dengan HIV Aids (ODHA) di Indonesia, Sabtu (8/12/2018), menggelar workshop dengan sejumlah media lokal yang diadakan di salah satu restoran terkemuka di kawasan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

Menurut Ratu Selfia, selaku Focal Point JIP Kota Tangerang Selatan, kegiatan penggiat ODHA dengan para wartawan tersebut dalam memperkuat jejaring dengan mitra media dalam berbagai hal berkaitan isu HIV.

Kegiatan itu juga dihadiri para penggiat HIV seperti dari kelompok Kapeta, Kotex Mandiri, Wahana Cita Indonesia, Rumah Asa, Drug Policy Reform, Generasi Taman Jajan, Kelompok Dukungan Sebaya (KDS Pelangi), Indonesia Aids Coalition, Bina Muda Gemilang, IPPI dan KPA Provinsi Banten.

“Maksud dan tujuan pertemuan kami dengan para jurnalis, selain untuk mengurangi atau meminimalisir stigma dan diskriminasi isu terkait HIV, juga untuk memaksimalkan peranserta media dalam menyebarluaskan informasi dalam rangka pencegahan, penanggulangan dan pengobatan HIV yang menyebabkan hilangnya kekebalan tubuh,” ungkap Ratu Selfia.

Disebutkannya, JIP Kota Tangerang Selatan mendukung dan memgampanyekan pencanangan nol stigma dan diskriminasi terhadap terpapar HIV pada tahun 2030. Dengan demikian dimaksudkannya agar orang dengan HIV bisa hidup dengan selayaknya, tidak dijauhi di lingkungannya serta tidak didiskrimasi di tempat pekerjaannya.

Sedangkan Sekretaris Daerah JIP, Irwanto, menyebutkan secara struktur tingkatan yang jelas, mulai dari Kemenkes, IAC, JIP nasional dan daerah.

“Orang dengan HIV Aids agar mendapatkan edukasi dari para pendamping, sehingga mau setelahnya mau membuka diri. Meski tidak untuk melakukan advokasi, pendamping seperti Kotex Mandiri dan sebagainya memberikan edukasi agar bagi yang terpapar HIV, sehingga secara sosial mereka bisa untuk hidup layak,” terang Irwanto.

Dia menyebutkan, penderita HIV harus membuka diri untuk mengatasi persoalan. Dengan kesadaran membuka diri akan menyadari kalau bukan dari diri sendiri, dari siapa lagi. Pendamping hanya mendorong akses dapatnya obat dari pemerintah setiap bulan.

Kesulitan yang ditemukan pendamping, meski ada program seperti pencegahan dari ibu dan anak, seperti adanya anak anak usia 15 tahun yang terpapar mengidap HIV. namun karena tidak adanya keterbukaan membuat orang dengan HIV seperti fenomena gunung es, yang kelihatannya sedikit, namun sebenarnya bisa banyak persoalan Banten.

Irwanto menyatakan, kekhawatirannya jika pada 2030 biaya untuk HIV sudah tidak ada lagi. “Padahal Banten termasuk yang peduli HIV. Mereka dengar, paham dan mengakui kelemahannya. Tapi juga menganggap persoalan HIV bukan urusan saya saja, itu urusan Dinas Kesehatan,” bebernya.

Seorang penggiat HIV, Mengki, mengataka persoalan lainnya yang dihadapi ODHA, seperti pelayanan BPJS. Mau tidak mau hal ini mempengaruhi. Misalnya, orang Tangsel harus berobat ke RS Fatmawati, harus dicicil pemberiannya. “Mau tidak mau penderita harus membeli obat sendiri di luar,” kata Mengki.

Mengki menyebutkan, pada tahun 2000-an pernah ada anggaran yang dikeluarkan pemerintah yang dananya diambil Dinkes, yang berarti fungsi kordinasinya ada di dinas tersebut. Senada, Kori salah seorang pendamping yang malah berharap ketersediaan obat tetap ada.

Sementara itu, Kordinator program KPA Banten, Jordan, mengatakan perlunya hubungan KPA dengan lembaga terkait seperti adanya peran media harus dihidupkan kembali. Tidak sekedar membuat berita tanpa turut mencarikan solusinya.

“Pada tahun 2014 KPA Banten pernah mengadakan workshop dengan sejumlah jurnalis. Dari hasil workshop sepakat yang diberitakan bukan hanya dari sisi pemberitaan faktual, tapi juga untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi ODHA.” ucap Jordan yang menyebutkan workshop dinakhodai instruktur wartawan senior, Saiful Rahman.

Dia menghimbau, yang dituliskan tidak hanya soal virus tapi juga segi kemanusiaan. Dengan harus mengedepankan terkait regulasi. Sebab setiap pekerjaan yang tanpa menjalankan aturan, susah,” tandasnya.

EDY TANJUNG

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply