Ketua LBH Bara JP Lapor ke Kapolri Terkait Oknum Polisi Lecehkan Profesinya



Jalintar Simbolon SH


CURUG, TANGERANG | BantenLink – Oknum anggota Polsek Curug Tangerang yang bertugas sebagai penyidik Unit 2 diduga telah melecehkan dengan menantang profesi pengacara dan wartawan. Penyidik kasus tuduhan perselingkuhan US (24) menyebutkan dirinya tidak takut.

“Asal kamu tahu ya, berapapun pengacara dan ribuan wartawan kemari, kita gak takut. Ini mah wartawan-wartawan dan pengacara, yang datang kemari kecil, “ucap oknum polisi itu.

Hal itu dikatakan sumber yang ditahan dengan tanpa status penahanannya sejak pukul 4 sore pada hari Kamis tanggal 14 November 2018 sampai pukul 01.30 dini hari tanggal 16 November 2018.

Menurut Jalintar Simbolon SH, Kepala Tim (Katim) Penyidik Unit 2, Aritonang yang telah mengusir Jalintar. Selaku pengacara keluarga US, dirinya mengecam arogansi yang dilakukan penegak hukum kepadanya. kronologis pelecehan terhadap profesi pengacara dan jurnalis.

Ditambahkannya, penyidik tidak mampu menunjukkan sepucuk surat apapun atas status US. Ironisnya, Jalintar selaku Kuasa Hukum US diusir dari ruangan oleh Kepala Tim Penyidik Unit 2 Polsek Curug Tangerang.

“Saya sebagai kuasa hukum US telah diusir dari ruang penyidik oleh Katim (Kepala Tim) Aritonang. Ini merupakan pelecehan dan tindakan sewenang-wenang serta pelanggaran kode etik polisi sebagai penegak hukum yang telah melakukan penghinaan atau content of court terhadap institusi penegak hukum advokat,” kecam Jalintar.

Tentang hal pelecehan polisi yang memalukan dirinya, ia segera akan melaporkan hal tersebut kepada Kapolri, Propam Mabes Polri, Mahkamah Agung, Ombudsman dan organisasi advokat

“Ini saya lakukan agar tidak terjadinya lagi hal hal sperti ini dikemudian hari,” tegas Jalintar.

Diceritakannya, pelecehan terhadap profesi advokat, bermula dari kasus yang menjerat seorang pria (24) atas tuduhan perselingkuhan dengan seorang wanita yang sudah memiliki suami.

“Hubungan kedua tertuduh disebut karena saling cinta dan sayang. LS bahkan menyebut AD, suaminya, dalam mencari nafkah menjadi pemeras dan seorang pecandu narkoba,” ungkap Jalintar, yang dikenal sebagai Ketua LBH Bara JP itu.

US sendiri, lanjut Jalintar, dijemput di rumahnya oleh 3 orang yang tidak dikenalnya AD dan kedua temannya pada hari Rabu (13/11/2018) sekira pukul 19.00 WIB

“AD suami LS datang kerumah kami untuk menjemput US sambil memperlihatkan bukti laporan kepolisian. Tapi, waktu kami minta salinan surat itu tidak dikasih. Alasannya, sudah ditunggu pihak keluarga perempuan dan pelapor di Polsek Curug sekarang,” ungkap Jalintar menirukan penjelasan sebuah sumber.

Akhirnya, pihak keluarga US meminta tolong ke teman lainnya untuk mencari solusi. Seorang teman US menyarankan, membawa US ke Mapolsek Curudlg dengan jaminan yang disampaikan via handphone dan didengar keluarga serta kerabat US bahwa Polisi hanya minta keterangannya.

“Namun setelah diperiksa dan dimintai keterangan oleh polisi, US malah disuruh menginap di kantor polisi dulu 1X24 jam, dengan alasan untuk memancing pelapor AD dan wanita LS agar datang ke Mapolsek serta perkara bisa diselesaikan secara mediasi,” imbuh Jalintar lagi.

Tapi, Jumat (1611/2018), sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, pelapor AD dan keluarga perempuan LS hadir menjalani proses mediasi. Sayangnya, seperti melakukan pemerasan pelapor meminta uang ke US sebesar Rp 150 juta.

“Selaku pengacara keluarga saya menginginkan kasus ini harus terang benderang. Selain iti mempertanyakan kenapa klien saya ditahan penyidik Polsek Curug selama 33,5 jam terhitung sejak pukul 16.00 WIB di tanggal 15 November 2018 sampai pukul 01.30 WIB dini hari di tanggal 16 November 2018,” papar Jalintar.

Dia sebutkan, dirinya menanyakan ke para penyidik tentang status kliennya US yang ditahan lebih dari satu hari di Mapolsek Cururg. Namun jawaban tidak didapat dari Kepala Tim Unit 2 Aritonang maupun penyidik lainnya.

“Kami berdebat dengan para penyidik Polsek Curug, hingga akhirnya US dibebaskan dengan sembunyi-sembunyi pada hari Sabtu, sekitar pukul 01.30 WIB dinihari. Polisi tidak mampu menunjukkan status atas penahanan US klien saya. Tidak jelas ketetapan waktu hukum (tempus delictus) atas penyerahan atau penahanan US, sehingga kepastian hukum yang ada di Polsek Curug menjadi amburadul,” tegas Jalintar.

EDY TANJUNG

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply