FPI Lanjutkan Demo Jika Ansor dan PBNU Tak Minta Maaf Terkait Pembakaran Bendera



Ketua PP FPI Habib Muhammad Hanif bin Abdurrahman al Attas memberikan ceramah di depan ribuan muslimin pada haul akbar di Perumahan Binong Permai, Minggu-Senin (3-5/11/2018) dinihari tadi


CURUG, TANGERANG | BantenLink –Umat Islam akan terus menuntut permohonan maaf dari Ormas Ansor dan PBNU terkait pembakaran bendera hitam bertuliskan lailahaillallah di Garut, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Kalau hal ini masih tetap tidak ditanggapi, kaum muslimin di bawah Komando FPI akan terus melanjutkan aksi demo yang diberi nama bela bendera tauhid.

Hal itu mengemuka dalam ceramah Ketua Umum PP FPI Habib Muhammad Hanif bin Abdurrahman al Attas pada Tabligh Akbar dalam rangka Haul Syuhada Ustadz Sahrie OY bin Oemar, yang dilaksanakan di halaman Sekolah Yayasan Binong Permai, Curug, Kabupaten Tangerang, Minggu (4/11/2018).

Ribuan jamaah yang hadir dan sebagiannya memakai ikat kepala dan memegang bendera bertuliskan lailahaillallah memadati dua lapangan sekolah, Aparat kepolisian setempat tampak menjaga keamanan hingga berakhirnya tabligh akbar, Senin (5/11), jam 01 WIB dinihari dengan situasi tertib, aman dan terkendali.

Dalam tabligh akbar yang dihadiri berbagai lapisan masyarakat itu, beberapa kali terdengar teriakan yel-yel siap membela islam yang dipandu Habib Hanif. Termasuk berulangkali secara bersama-sama mengucapkan kesiapan pada tahun 2019 Ganti Presiden.

Pantauan bantenlink.com, jamaah yang hadir sampai melimpah ke perempatan jalan di sekitar Pos Keamanan Terpadu Perumahan Binong Permai, yang persis berada di sekitarnya.

Dalam kesempatan haul tersebut Habib Habif memimpin doa bersama jamaah untuk keselamatan bangsa. Selain itu, juga memanjatkan doa untuk kesehatan Imam Besar FPI Habib Muhammad Rizieq Shihab dan Habib Muhammad Bahar bin Smith.

Dalam ceramahnya, Habib Muhammad Hanif menceritakan tentang Presiden Joko Widodo yang pernah menyatakan kangen didemo.

“Namun ketika umat Islam datang ke Jakarta untuk menyatakan membela terkait pembakaran bendera tauhid, tenyata beliau keluar kota,” ucapnya

Akhirnya, lanjut Habib Hanif, pihaknya ditemui oleh Menkopolkam Wiranto, bersama Wakapolri, Mendagri dan Panglima TNI.

Ditambahkannya, setelah berdiskusi sekitar 2,5 jam dengan pejabat pemerintah, Habib menyebutkan, mendapat penjelasan dari pihak Kemendagri.

“Penjelasannya sebagaimana juga dimuat dalam website resmi Kemendagri, sejak Juli 2017, jauh sebelum peristiwa pembakaran bendera bertuliskan lailahaillah di Garut, Jawa Barat, bahwa yang tidak boleh di Indonesia itu bendera yang bertuliskan Hitbuz Tahrir Indonesia (HTI),” papar Habib Hanif.

Lebih jauh dijelaskannya, yang dibakar itu tidak ada tulisan HTI, tapi adalah bendera tauhid kebanggaan umat Islam, sehingga pada Jumat 2 November 2018 umat Islam beramai-ramai ke sekitar Monas untuk aksi demo dan menyatakan membela bendera tauhid.

EDY TANJUNG

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply