Temu Kebangsaan MPR RI, H Muhammad Rizal SH MSi Apresiasi Lurah Gelar Karnaval Budaya 34 Provinsi



H Muhammad Rizal SH MSi


TANGERANG | BantenLink — “Jangan saling membedakan satu sama yang lain, membeda-bedakan didasari agama dan etnis. Inilah yang diperlukan dalam menyatukan bangsa, karena dalam sosialisasi ditanamkan kebhinnekaan. Dengan sosialisasi perbedaan seharusnya dijadikan aset, satu kekayaan, bersama saling mengisi satu sama yang lainnya.Saya mengapresiasi karnaval budaya di Binong yang diikuti 4000 peserta dengan menampilkan 34 provinsi dalam bingkai NKRI.Kita memiliki 17504 pulau yang ketika laut pasang hilang dan ketika surut banyak, sekitar 18000 pulau. Hati hati dengan pulau tanah kita.”

Hal itu diungkapkan H Muhammad Rizal SH MSi, selaku Kabiro Sekretariat MPR RI yang mewakili tempatnya berdinas saat temu tokoh nasional dan kebangsaan yang bekerjasama dengan MUI dan diikuti para tokoh dan RW yang dilaksanakan di Kelurahan Binong, Curug, Kabupaten Tangerang, Minggu (9/9/2018).

Dikatakannya, senang bertemu dengan masyarakat dalam mengikuti program MPR RI untuk meningkatkan pengetahuan berbangsa dapat meningkatka nilai-nilai kebangsaan. Fungsi 4 pilar untuk meningkatkan nilai-nilai kebangsaan.

Terlebih adanya sambutan dan program Ibu Lurah Binong Masitoh yang menjadi idaman. Lurah tentu memperhatikan kebutuhan masyarakat. Dulu sudah apa yang sudah dilakukan Lurah Binong sekarang akan menjadi sejarah baru.

Banyak hal yang disampaikan, termasuk soal Facebook. Sudah lama saya memakai Facebook, bahkan istrinya yang bertanya ini siapa pas melihat ada gambar perempuan.Medsos satu sisi membuat banyak teman, tapi kadang menghawatirkan, kita harus hati-hati. Perlu tapi harus tahu bagaimana memanfaatkan.

Dalam meningkatkan nilai-nilai kebangsaan kita diterpa arus deras yang terkadang tidak mampu membendungnya dan bisa terpengaruh berita menghawatirkan.Anak muda sekarang tidak lagi menghormati orang tua, meninggalkan nilai-nilai budaya, yang seharusnya sopan, beretika, kepada siapapun. Orang Indonesia dikenal sopan dan beretika, tapi sekarang tergerus arus global yang menghawatirkan.

Untuk menghadapinya seluruh elemen bangsa harus meningkatkan agar kembali pada jati negara yakni Pancasila. Sudah hapal semua, tapi susah untuk diimplementasikan. Apakah kita sudah mampu melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Muhammad Rizal mengajak bukan hanya hapal Pancasila tapi juga agar memaknainya, menerapkan di lingkungan di lingkungan sekitar kita, juga dalam berbangsa dan bernegara. Tidak hanya hapal tapi menerapkan nilainya.

Seperti dilakukan para founding father, pendiri bangsa, yang merumuskan lima sila yang dibangun Panitia Sembilan yakni Soekarno (ketua), Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, A A Maramis, Achmad Soebardjo (golongan kebangsaan) dan KH Wachid Hasjim, KH Kahar Moezakir, H.Agoes Salim dan R Abikusno Tjokrosoejoso (golongan Islam).

Ketika akan merdeka Indonesia harus punya dasar negara. Negara kesatuan apa dasarnya, panitia 9 dengan 4 tokoh agama mencetuskan Piagam Jakarta yaitu Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Kemanusiaan yang adil & beradab. Persatuan Indonesia, danvKerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, pada 17 Agustus pagi, dari usulan saudara dari daerah Indonesia bagian timur didasari pasal 29 UUD 1945 meminta tujuh kata diperbaiki. kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya diganti menjadi Ketuhanan yang maha esa. Hanya 15 menit diselesaikan oleh pemimpin dulu. Dengan melihat semua yang bergerak ingin bersatu untuk Indonesia.

Sekarang bisa bertahun-tahun. Kaitan dalam memutuskan sesuatu di RT RW tidak selesai. Mari kita bangun contoh, yang bisa merusak NKRI ialah adu domba, namun kita punya kekuatan Pancasila agar dalam mempersatukan bangsa, jangan sampai pecah.

Di Banten ada aliran kepercayaan kerajaan ubur-ubur. Ini tugas MUI yang harus mencoba mendekati mereka. Jangan dijauhi dan dibiarkan mereka sendiri sehingga mencari komunitas baru yang mengakibatkan terjadi perpecahan umat.

Tokoh begitu fundamen menjadikan Indonesia. Kalau kita melaksanakan satu nilai saja akan menjadikan negara hebat, beretika, berdaulat dan makmur. Jika Pancasila sudah dilaksanakan, pasti tidak melakukan yang dilarang koridor agama. Mereka. Founding father telah memikirkan jauh kedepan.

Pendiri bangsa telah memikirkan jauh kedepan. Kenapa sekarang dimana-mana masih banyak yang yang melakukan pencurian, begal, pembunuhan. Karena kita belum melaksanakan nilai nilai ketuhanan yang maha esa. Kalau melaksanakan nilai-nilai ketuhanan pasti ada rasa kemanusiaan, empati.

Dengan didasari ketuhanan yang maha esa akan mempersatukan anak bangsa, tidak saling memusuhi, saling menyakiti tapi menjadikan Indonesia yang damai, sehingga dunia internasional tercengang.

Indonesia dikenal ramah dan sopan, saat Asian Games Muhammad Rizal mendengar dari tim luar negeri yang mendapatkan pelayanan baik dengan hormat dan memdapatkan respon positip. Yang begini harus dibangun terus-menerus. Yang mendampingi di Asian Games sudah ditraining supaya jangan merusak nama baik Indonesia.

Tim lurah, RT RW perlu menghidupkan hal demikian. Di era medsos gampamg sekali, di grup Ada berita hoax harus hati, jika viral polisi jika viral polisi bisa menindaklanjuti. Di media sosial jangan sampai membuat kebencian karena dapat hukuman.

Klarifikasi dulu kebenaran beritanya. Tanya MUI, ustad, ulama, RW. Jangan menghakimi dengan berita medsos, kalau viral yang membacanya bukan satu orang tapi bisa ribuan bahkan. jutaan orang yang kita fitnah.

Ulama susah tahu persis. Nilai musyawarah mari hidupkan. Pancasila hidup dari nilai agama. Kompas pernah melakukan survei apakah Pancasila masih relevan atau tidak Hasilnya menghawatirkan, sebanyak 25 persen masih mengatakan masih relewan sedang 75 persen lagi mengatakan sudah tidak relevan. Masyarakat banyak yang invidualisme, bebas dan materialistik. Kurang kenal satu sama yang lain. Dulu kenal sekampung, sekarang satu RT saja tidak kenal karena jarang kita berkumpul.

Di rumah saja tahu-tahu anak kita susah besar saja. Setidaknya dalam sebulan sekali seharusnya berkumpul dengan keluarga. Makan bareng, kalau tidak nanti tidak kenal. Dengan orang tua tidak dekat, pas punya masalah emosional, sehingga timbulla anak yang menuntut ibunya. Kalau tidak dibangun saling mengenal kita bisa tidak saling kenal . Di rumah kalau melepas anak biasakan mengucapkan salam dan memeluk anak. Mari kita dekatkan diri dengan anak. Terutama yang tinggal di pekotaan.

Nilai-nilai Pancasila yang dirumuskan pendiri bangsa harus dihidupkan.memiliki nilai pancasila. Sekarang banyak yang tidak tahu dan tidak memahami Undang Undang. Dampak positip sosialisi kita akan tahu aturan.

Tadinya sebelum sosialisasi 4 Pilar kebangsaan banyak antarmahasiwa, anak SMA. Tawuran terjadi antara kampung dan sudah masuk ke berbagai lini kehidupan. Patut kita sadari bahwa kira perlu memelihara kerukunan sehingga kembali pada jati diri.

Setelah sosialisasi tawuran antarpelajar yang dulunya sering terjadi sehingga secara tidak sadar pelan-pelan hilang. Tadinya ada nilai-nilai yang sudah kita lupakan seperti di Sulawesi, Jakarta tawuran masuk pada pada kalangan anak remaja.

Demo besar-besaran pun dibayar upahnya berapa sampai siang, dapat makan siang dan transpor. Kalau sampai malam ada harga lainnya. Mengumpulkan orang gampang asal ada uangnya dengan adanya korlap.

Padahal demonya palsu karena ada kepentingan tertentu. Supaya terkesan banyak massa yang protes. Banyak yang palsu dalan kehidupan kita. Mari kita membanguna sikap baik dengan nilai-nilai, sehingga tidak mudah terprovokasi, tidak bisa dipecah-belah oleh teman sendiri. Jangan terus terjadi pertentangan, sehingga kalau terjadi kerusuhan ada negara lain yang merasa berkepentingan mengancam akan campur tangan.

EDY

Edy Tanjung

Author: 

Leave a Reply