|
|
|
|
|
Nostalgia Adam |
|
Oleh: Purwo Rubiono |
|
|
|
KETIKA
kususuri jejak Adam, ketemu pula jejak Qabil dan Habil, juga
batu-batu nisan dari makam burung-burung gagak yang kemudian
melahirkan banyak pertanyaan dibenak. Betapa sebahagian ciptaanNya
bermusuhan dengan yang lain. Entah apa yang diperebutkan, bukankah
telah jelas bagian masing-masing? Tidak cukupkah? Ataukah
semata-mata dendan akibat memakan buah yang ranum itu? |
|
|
|
Petruk Jadi Bupati |
|
Oleh: Toto ST Radik |
|
|
|
PETRUK SERABI dan Joni Putra
Bangsa bingung. Pasalnya, mereka terpilih sebagai Bupati dan Wakil
Bupati Srengenge periode 2005-2010 melalui pemilihan kepala daerah
langsung alias pilkadal yang berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Padahal lima pasangan lainnya memiliki reputasi hebat, memiliki
banyak gelar, populer, kaya, dan didukung koalisi partai-partai
besar. Bahkan ada yang sudah terpilih sebagai anggota DPRD dan ada
pula yang berpengalaman sebagai bupati atau wakil bupati.
Sedangkan Petruk Serabi dan Joni Putra Bangsa hanyalah rakyat
biasa yang diusung partai gurem yakni Partai Dhuafa Bersatu dan
Partai Rakyat Aduhai yang masing-masing hanya memiliki empat kursi
di DPRD. |
|
|
|
Sajak - Sajak Mahdiduri |
|
|
|
Mahdiduri,
Mahdiduri, lahir di Tangerang, 1979,
terlibat dalam dunia sastra sejak di Madrasah Aliyah I Serang.
Puisi dimuat di media lokal-nasional. Antologi puisi bersama,
“Sembunyi Sampai Mati (Sanggar Sastra Serang), Senandung Wareng di
Ujung Benteng (DKT), Bisikan Kata Teriakan Kota (DKJ-Benteng),
Mahaduka Aceh (PDS HB Jassin)”. Kumpulan puisi tunggal yang
sedang disiapkan “Gunung Sperma di WC Pabrik”. |
|
|
|
Sie Hok Gie Dan Aktivis
Kebablasan |
|
Oleh: Ibnu PS Megananda |
|
|
|
ADA DISKUSI kecil di Forum
Kesenian Banten (FKB) setelah pemutaran film Sie Hok Gie yang
dibintangi Nikolas Saputra dan Wulan Guritno. Tokoh yang terkenal
di zamannya menumbuhkan istilah angkatan 66, menjadi pembicaraan
dan mengundang rasa kagum. Sebagai aktivis mahasiswa ia tidak
berkelebihan kalau dikatakan luhur, karena ia tidak punya niatan
macam-macam dengan aktivitasnya. Misalnya, setelah tidak jadi
mahasiswa, jadi aktivis partai, kalau mulus jadi pimpinan partai,
jadi anggota dewan dan seterusnya. |
|
|
|
Kematian Di Berbagai
"Dunia" |
|
Oleh: Ibnu PS Megananda |
|
|
 |
Memandang kematian secara umum kalau
itu mahluk hidup pisahnya nyawa dengan jasad. Namun kalau kematian
sastra bukan berarti kegiatan tulis menulis atau pementasan sastra
mandeg. Tidak, seperti yang diutarakan dosen sastra Universitas
Tirtayasa (Untirta) Banten, Herwan FR, saat bedah buku “Matinya
Dunia Sastra” karangan Acep Iwan Saidi, di Untirta, belum lama
ini.
Kematian dunia sastra yang ada karena
disebabkan beberapa hal, namun bukan berarti kegiatan sastra
terhenti. Karena dimana pun bila mau mencari penulis sastra pasti
ada, walaupun dipucuk gunung. Orang-orang desa yang menulis itu
untuk dibaca sendiri atau diberitahukan pada orang dekatnya.
Maka cerpenis Moh Wan Anwar dalam
diskusi itu juga menyampaikan sesungguhnya dalam persoalan tulis
menulis khususnya dalam penerbitan jurnal di banyak fakultas di
universitas dianggap kurang efektif. Karena banyak jurnal hingga
kurang lebih 1.300 jurnal fakultas di Indonesia digarap dengan
tidak serius, karena isi dan tampilannnya hanya asal ada. Jurnal
hanya lahan latihan penulis pemula yang belum bisa diterima di
media massa. Jurnal dinilai hanya melegitimasi dosen yang
menginginkan jenjang karirnya. |
|
|
|