|
Tangerang-Nandar Prawira:
Kesenjangan
berbahasa Inggris bagi negara-negara ketiga menjadi kendala
untuk menghadapi globalisasi dunia. Di Indonesia,
kesenjangan ini terjadi terutama pada guru-guru yang berada
di sekolah-sekolah Islam.
British Council,
lembaga di Inggris yang berkonsentrasi dibidang pendidikan
dan kebudayaan menyikapi hal itu dengan mengadakan kegiatan
Islamic School Support Network (ISSN).
Kegiatan ini
dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia yang dibuka
oleh Pangeran Charles di Yogyakarta pada 4 Nopember lalu. Di
Banten, kegiatan ini dilaksanakan di Sekolah Dasar (SD)
Islamic Village, Desa Kelapa Dua, Curug Kabupaten Tangerang.
Kegiatan yang
dilaksanakan mulai Senin (17/11) hingga Rabu (18/11) ini
diikuti oleh 19 guru se-Provinsi Banten dan Jawa Barat.
“Tujuan utamanya adalah meningkatkan kemampuan berbahasa
Inggris dan memperluas hubungan para guru di sekolah Islam
di Indonesia,” kata Gusni Pusptiasari, Media Relation
Officer British Council Jakarta.
Menurutnya,
kemampuan berbahasa Inggris harus dimiliki oleh semua guru.
Baik guru bahasa Inggris maupun guru-guru lainnya, seperti
guru matemaika, guru IPA, guru IPS, dan guru agama. “Era
globalisasi menyebabkan kemampuan berbahasa Inggris bukan
hanya kewajiban guru Bahasa Inggris, tapi wajib dikuasai
oleh guru-guru bidang studi lain seperti matematika, IPA,
IPS dan lain-lain,” ujarnya.
Materi kegiatan
ini adalah metoda Class Room Language yang mengajak
guru-guru untuk lebih kreatif menggunakan bahasa Inggris
pengajaran di kelas. Selain itu ada juga metoda eLanguages
yang lebih bertitik berat pada lembaga sekolahnya. Dalam
eLanguages, sekolah didorong membangun hubungan antar
sekolah baik di dalam maupun di luar negeri.
“Sedangkan tahap ketiga, membangun kewirausahaan. Dengan
kewirausahaan diharapkan sekolah-sekolah Islam dapat
meningkatkan kemandirian sekolah. Isinya, seperti mengatur
koperasi atau komunitas-komunitas lainya,” katanya. (*) |